Shinta Ayu Nadia, mahasiswa Stikes Sentral Kota Padangsidimpuan yang merupakan Putri Seni dan Budaya Indonesia 2025, menampilkan tarian Tari Sandyakalayu di ajang Kemah Budaya Angkola 2025 di Kelurahan Batunadua Jae, Kecamatan batunadua, Kota Padangsidimpuan.
Penulis: Nasaktion Efry | Editor: Budi Hutasuhut
Seorang gadis selalu di-bully teman-teman dalam lingkungan pergaulannya karena ia memilih menari sebagai cara mengekspresikan dirinya. Pilihan sebagai penari itu dianggap aneh dan janggal. ia diejek, ia dikucilkan.
Tapi, pem-bully-an itu tidak meruntuhkan psikologi gadis itu. Sebaliknya, gadis itu justru semakin bersemangat menari, menciptakan karya-karya tari, dan akhirnya berhasil mengembangkan kemampuannya hingga menjadi penari yang profesional.
Cerita gadis penari yang di-bully itulah yang diceritakan Shinta Ayu Nadia dalam karya tarinya yang berjudul Sandyakalayu. Tapi gadis dalam tari itu bukan cerminan pribadi Shinta Ayu Nadia. Gadis itu ada dalam imajinasi Shinta, karena kasus pembulian sering muncul di dalam pergaulan anak-anak muda.
"Bully membully tak seharusnya ada. Itu dapat merusak psikologi anak-anak, baik yang jadi korban maupun yang menjadi pelaku,' kata Shinta.
Shinta mengaku sudah lama menggarap Sandyakalayu, sejak ia masih duduk di bangku SMA. Ia terinspirasi kasus pem-bully-an yang terjadi di kalangan generasi muda karena menyayangkan hal seperti itu bisa terjadi.
Menurut Shinta, kasus pem-bully-an terjadi karena anak-anak muda tidak bisa mengekspresikan eksistensi dirinya dengan berkreativitas. Jika anak-anak muda memiliki kesibukan untuk berkreativitas, mereka tidak akan punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal negatif.
"Pergaulan sangat memperngaruhi kasus bully, tetapi tidak adanya penyaluran ekspresi menjadi penyebab utama," kata Shinta.
Shinta mengaku beruntung, karena ia mempelajari tari sejak usia tiga tahun ini, dan ia mengekspresikan dirinya lewat karya-karya tari.
"Selain sering diminta untuk menari dalam acara-acara resmi, saya berkreativitas menciptakan karya-karya tari yang baru," kata Shinta.
Awalnya Shinta belajar kuda lumping di Sanggar Putra Langgeng Lestari yang dipimpin ayahnya, Hendra Gunawan Lubis. Dari mendengarkan irama musik, mempraktekkan gerak tari saat main kuda lumping, Shinta kemudian berkembang untuk membuat karya-karya kreaograf.
"Seni tari bagian dari kebudayaan. Ketika kita mencintai tari, dengan sendirinya kita mencinta kebudayaan," katanya.
Karena kecintai Shinta terhadap kebudayaan, ia dinobatkan sebagai Puteri Seni dan Budaya Indonesia 2025. "Saya bersyukur dapat meraih gelar Wakil III Puteri Seni dan Budaya Indonesia 2025," katanya.
.jpg)

COMMENTS