Aek Batangtoru, sungai sepanjang 256 km yang melintasi Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Tapanuli Selatan, mengamuk dan menghanyutkan ribuan batang kayu dari hulu.
Penulis: Budi Hutasuhut | Editor: Nasaktion Efry
Setiap kali curah hujan tinggi, debit air di Aek (Sungai) Batangtoru akan ikut naik. Arus air sepanjang badan sungai, dari hulu di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara sampai ke hilir di Kabupaten Tapanuli Selatan, akan bertambah deras.
Sungai yang melewati perkampungan-perkampungan penduduk, sejak dari Kecamatan Simangumban di Kabupaten Tapanuli Utara sampai Kecamatan Muara Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan, akan masuk ke kawasan perkampungan. Itu kejadian biasa, yang diterima masyarakat sebagai bagian dari siklus kehidupan. Tinggal di tepi sungai pasti direndam air.
Menerima kenyataan akan direndam air suatu saat, bukan sebuah kepasrahan bagi penduduk yang tinggal di tepi Aek Batangtoru. Itu sebuah penerimaan atas realitas kehidupan yang justru mengubah kebiasaan hidup mereka, menjadi orang yang memposisikan sungai sebagai lahan sumber penghidupan.
Masyarakat menjadikan air dari Aek Batangtoru sebagai sumber pengairan untuk lahan-lahan persawahan, untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), dan untuk mata pencaharian. Sebagian masyarakat menangkap ikan dari Aek Batangtoru, sebagian lainnya menambang pasir. Kehidupan mereka menggeliat dengan penghidupan seperti itu. Ini yang dialami ratusan rumah tangga penduduk di Lingkungan Mabang Pasir, Kelurahan Hutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru.
Kehidupan mereka berdenyut setiap hari seperti aliran Aek Batangtoru. Kadang mengalir lambat, kadang menderas. Namun, sekalipun arus itu menderas, tidak pernah terdengar menyebabkan banjir bandang yang merugikan masyarakat hingga merengut korban jiwa.
Peristiwa yang terjadi pada Senin, 24 November 2025, siang hari, ketika Aek Batangtoru menghanyutkan gelondongan kayu, menjadi peristiwa yang mengejutkan masyarakat di Kelurahan Hutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru. Dalam hitungan menit, ribuan batang kayu gelondongan, datang dari hulu air, bergerak begitu cepat, menimbulkan suara kretak kretak yang bergema.
Gema suara itu diikuti teriakkan histeris dari warga, memberi sinyal marabahaya ke warga lainnya. Seluruh warga serentak berlari. Situasi sangat kacau. Orang-orang menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, beberapa kilometer menjauh dari badan sungai.
Ketika menyelamatkan diri, masih sempat mereka lihat rumah-rumah di pinggir Aek Batangtoru, dihantam kayu-kayu berdiameter satu hingga dua meter, dan rubuh. Sedimen pasir di dasar sungai, ikut naik diseret arus air, lalu menghantam rumah-rumah dan menutup rumah-rumah itu.
Gemuruh dan kretak-kretak kayu gelondongan yang masuk ke dalam perkampungan di Lingkungan Mabang Pasir, Kelurahan Hutaraja, disambut jerit dan teriakan histeris warga. Setiap orang terlihat kalut. Setiap orang khawatir. Mereka melihat air yang mengamuk, mereka menyaksikan rumah-rumah yang terendam.
Sekitar tiga kilometer dari Lingkungan Mabang Pasir ke arah hilir Aek Batangtoru, kabar banjir bandang mengalir lewat telepon seluler ke desa-desa di hilir. Di Lingkungan Muara Ampolu, Kelurahan Ampolu, masyarakat yang tinggal dekat Aek Batangtoru segera bergerak menghindar banjir. Namun, banjir datang lebih cepat dibandingkan informasi lewat telepon.
Air yang membawa kayu gelondongan menghantam rumah-rumah, menggeser jembatan, membuat aspal jalan mengelupak. Orang-orang panik menyelamatkan keluarga masing. Rumah-rumah yang ada di bantaran Aek Batangtoru, mulai dari Desa Tarapung sampai ke Pasar Ampolu, direndam air. Volume air terus meningkat hingga menenggelamkan bangunan-bangunan.


COMMENTS