alt gambar

Benarkah Ada Orangutan Tapanuli di Dolok Sibualbuali

Orangutan tapanuli dewasa dan anaknya terpantau di ekosistem Batang Toru. Foto: Andrew Walmsley

Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), hewan langka endemik di Hutan Batangtoru, semakin banyak yang ingin melindunginya semakin jarang ditemukan di habitatnya

"Katanya ada Orangutan tapanuli, tapi saya tak pernah melihatnya," ujar Abdul Hadi, laki-laki 30 tahun, sambil menciduk air nira mendidih dari dalam kuali besar di hadapannya, lalu menuangkannya ke dalam dua gelas kopi. Kopi yang diseduh air nira panas menjadi minuman tradisional di Kecamatan Sipirok, sejenis minuman yang hanya bisa dinikmati di tempat para produsen gula aren bekerja. 

Setelah mengaduk dua gelas,  Abdul hadi menyodorkan satu gelas kepada saya, dan ia tampaknya masih ingin bicara:  "Aku kira tidak ada orang yang pernah melihat hewan langka itu di daerah ini."

Orang-orang di Sipirok menyebut  Abdul Hadi sebagai paragat, sebuah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur budaya masyarakat  Batak beradat Angkola, dan pekerjaan itu sangat mengandalkan pengetahuan tradisional yang mengajarkan cara menyeimbangkan pendapatan usaha dengan pelestarian lingkungan hutan. 

Seorang paragat bekerja mengambil nira dari pohon aren ( Arenga pinnata) yang tumbuh secara alami di kawasan hutan. Pohon-pohon aren itu tidak pernah ditanam secara khusus. Tanaman itu nira itu kemudian ditanak hingga mengkristal menjadi gula aren. Untuk menanak nira aren, seorang paragat mempergunakan batang dan dahan pohon yang sudah tua dan tumbang. Setiap hari seorang paragat selalu mengumpulkan kayu-kayu bakar dari dalam kawasan hutan. Tidak dengan cara menebangi pohon, tetapi membersihkan lantai hutan dari kayu-kayu yang tumbang dan dahan-dahan pohon yang patah.    

Ditemui di tempat usahanya membuat gula aren, tepat di lereng Dolok Sibualbuali yang ada di wilayah Desa Pagaranjulu, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Abdul Hadi mengaku telah mengelilingi kawasan hutan untuk menderes batang-batang aren maupun mencari kayu bakar.  Selama puluhan tahun pekerjaan sebagai paragat dijalaninya, sejak masih duduk di bangku SMA, selama itu pula ia belum pernah bertemu Orangutan tapanuli. 

Tempat usaha Abdul Halim berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sibualbuali (CADS I), yang ditetapkan pemerintah pada 1984 dengan luas sekitar 5.000 hektare, bersebelahan dengan Cagar Alam Dolok Lubuk Raya (CADLR) seluas 3.050 hektare,  dan Cagar Alam Dolok Sipirok (CADS II) seluas 6.970 hekatare. 

Ketiga cagar alam ini berada di dalam kawasan Hutan Batangtoru yang luasnya 240.985 hektare yang kini berada di wilayah kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli tengah, dan Tapanuli Utara. Sebanyak 147.771 hektare dari Hutan Batangtoru merupakan kawasan konservasi atau hutan lindung,  dan 94.213,39 hektare merupakan hutan produksi terbatas, hutan produksi, dan areal penggunaan lain. Sementara luas tiga cagar alam mencapai 15.020 hektare. 

Populasi kera besar endemik Hutan Batangtoru, dalam penjelasan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Pemerintah Indonesia 2019-2029, tersisa -760 individu di habitat seluas 1.051,32 km per segi yang tersebar pada dua metapopulasi..
Ketika para peneliti mengumumkan keberadaan Orangutan tapanuli sebagai species yang berbeda dengan Orangutan sumatra (Pongo abelii) pada tahun 2017, populasi kera besar endemik Hutan Batangtoru ini diperkirakan tak lebih 800 individu. Dalam penjelasan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Pemerintah Indonesia 2019-2029, populasi Orangutan tapanuli tersisa, diperkirakan 577-760 individu, di habitat seluas 1.051,32 km per segi yang tersebar pada dua metapopulasi.

Hewan yang oleh  IUCN ditetapkan berstatus kritis (critically endangered) atau selangkah lagi menuju kepunahan di alam liar,  disebut  tersebar di areal seluas kurang lebih 105.000 hektare yang merupakan kawasan Hutan Batangtoru. Di dalam kawasan Hutan Batangtoru, selain tiga cagar alam yang disebut di atas, masih ada Cagar Alam Dolok Saut (CADS III) yang luasnya sekitar 39 hektare.

Populasi Orangutan tapanuli diduga terkonsentrasi di empat kawasan cagar alam tersebut. Namun, masyarakat yang tinggal di sekitar cagar alam, terutama di wilayah Kecamatan Sipirok,  meragukan ada Orangutan tapanuli di sekitar mereka. Bukan hanya Abdul Hadi yang meragukan hal itu, tetapi  juga banyak masyarakat.
 
"Kalau harimau, aku sering bertemu di Dolok Sibualbuali," kata Marwan, terdengar bangga dengan apa yang diceritakannya, dan ia menambahkan. "Harimau itu hewan yang dihormati di daerah ini. Berbeda dengan beruang madu yang sering menjadi hama dalam usahaku."

Seperti halnya Abdul Hadi, Marwan juga bekerja sebagai paragat di kawasan hutan Dolok Sibualbuali, di wilayah Desa Padangbujur, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Ia bercerita, Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), Beruang madu (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus),  dan hewan-hewan langka lainnya,  masih sering dijumpai.  Padahal, populasi hewan-hewan langka itu tak banyak, sama seperti Orangutan tapanuli.

Sebab itu, Marwan meragukan Orangutan tapanuli yang digembar-gemborkan endemik di cagar alam dalam kawasan Hutan Batangtoru, sebetulnya tidak pernah ada. Pasalnya, selain tidak pernah dilihat wujudnya, jejak-jejak keberadaan Orangutan tapanuli pun tidak pernah diketahui. Habitat Orangutan tapanuli di kawasan cagar alam telah rusak. Tidak banyak lagi ditemukan pepohonan besar, baik tempat peristirahatan Orangutan tapanuli maupun sumber pakan. 
 
"Biasanya kami rutin mendengar suara imbo. Belakangan suara itu jarang terdengar," kata Majid, petani kopi yang membuka lahan di lereng Dolok Sibualbuali di wilayah Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan.  

Dari penelusuran Sinar Tabagsel,  Orangutan tapanuli jarang muncul di kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali maupun Cagar Alam Dolok Lubuk Raya. Sejumlah warga yang tinggal di sekitar dua kawasan cagar alam itu mengaku belum pernah melihat Orangutan tapanuli di dalam hutan. 
Namun, di sejumlah titik di bagian Barat dari kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali, seperti di Desa Bulu Mario dan Desa Aek Batang Paya di Kecamatan Sipirok, atau di beberapa desa di Kecamatan Marancar, Orangutan tapanuli sering terlihat keluar dari kawasan dan memasuki kebun-kebun warga. Menurut pengakuan masyarakat, individu Orangutan tapanuli itu kondisinya kurang sehat dan tampak kurus. 
Orangutan tapanuli tidak punya lagi sumber makanan di dalam hutan akibat adanya kasus penebangan kayu yang dilegalisasi pemerintah.
Masyarakat mencurigai, Orangutan tapanuli tidak punya lagi sumber makanan di dalam hutan akibat adanya kasus penebangan kayu yang dilegalisasi pemerintah. Di sejumlah titik di wilayah Desa Bulu Mario, Sinar Tabagsel menemukan areal bekas penebangan hutan yang dilakukan pihak yang mengaku pemegang izin  PHAT (Pemegang Hak Atas Tanah) dan sanggup membuktikan bahwa kegiatan mereka legal secara hukum yang berlaku.  

Para pemegang izin  PHAT  ini beroperasi di kawasan yang mereka sebuah sebagai APL (areal penggunaan lain), namun akibat penebangan yang dilakukan justru membuat habitat Orangutan tapanuli menjadi terfragmentasi. Kawanan Orangutan tapanuli yang ada di Hutan Batangtoru sudah terpencar-pencar, terutama setelah pemerintah memberikan izin bagi munculnya industri ekstraktif seperti Tambang Emas Martabe, pembangunan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA), dan pemberian izin PHAT yang terkesan begitu gampang. 

Fragmentasi kawasan Hutan Batangtoru menyebabkan cagar alam terputus dari Hutan Batangtoru, sehingga habitat Orangutan tapanuli menjadi menyempit. 

Penulis: Budi Hutasuhut  |  Editor: Nasaktion Efry

COMMENTS

alt gambar
alt gambar
alt gambar
Nama

Bencana,8,Berita,11,Bisnis,6,BudiHatees,22,Buku,1,BUMD,2,Buruh,3,Cerpen,14,Daerah,37,Database,8,Diskusi,1,Ekonomi,135,Esai,4,Feature,54,Flash,13,Grafika,1,Hukum,77,Humaniora,99,Indept,68,Infografis,1,Investasi,1,Jajakpendapat,1,Klinik,6,Kolom,30,Kombur,5,Komoditas,11,Lingkungan,28,Lomba,1,Lowongan,1,Madina,22,Maturepek,3,Medan,5,Mudik,5,Nasional,38,Olahraga,1,Opini,7,Padangsidempuan,51,Palas,4,Paluta,6,Pandemi,25,Perbankan,6,Politik,55,Puisi,6,Ramadan,4,Sastra,15,Sejarah,5,Sidempuan,39,Sumut,55,Tajuk,49,Tani,12,Tapsel,85,Teknologi,6,Tokoh,3,UMKM,6,Utama,443,Wisata,10,
ltr
item
Sinar Tabagsel: Benarkah Ada Orangutan Tapanuli di Dolok Sibualbuali
Benarkah Ada Orangutan Tapanuli di Dolok Sibualbuali
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtPLI__ziTX5UfvDshEf6uTAJsv4XD3OfiV6FgfGGoplBfcR2DZvu3sStMIjXoDhrTEazcJwEonr357KYwXKITO6q0x9i1zMTnc4PbEpF3VaWEk5lF7N6L7di-zH1gMmH6nhlxmeDzMbLpZtjwY-AauZIoRamttsL8X9dZdXyQzQkvz8q5lU2T7Td1sg/w640-h426/orangutan-Walmsley-adult-and-juvenile.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtPLI__ziTX5UfvDshEf6uTAJsv4XD3OfiV6FgfGGoplBfcR2DZvu3sStMIjXoDhrTEazcJwEonr357KYwXKITO6q0x9i1zMTnc4PbEpF3VaWEk5lF7N6L7di-zH1gMmH6nhlxmeDzMbLpZtjwY-AauZIoRamttsL8X9dZdXyQzQkvz8q5lU2T7Td1sg/s72-w640-c-h426/orangutan-Walmsley-adult-and-juvenile.jpeg
Sinar Tabagsel
https://www.sinartabagsel.web.id/2025/10/benarkan-ada-orangutan-tapanuli-di.html
https://www.sinartabagsel.web.id/
https://www.sinartabagsel.web.id/
https://www.sinartabagsel.web.id/2025/10/benarkan-ada-orangutan-tapanuli-di.html
true
38763178306481255
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts Berita lain Baca Reply Cancel reply Delete Oleh: Home PAGES POSTS Berita Lain Berita Terkait LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy