Narkoba, berbagai jenis zat adiktif yang membahayakan kesehatan, beredar luas di Kota Padangsidimpuan hingga membentuk sebuah dunia.
Penulis: Budi Hutasuhut | Penyunting: Nasaktion Efry
Ony, bukan nama yang ditulis dalam kartu tanda penduduk (KTP), dua puluh empat tahun usianya, dua tahun di antara usia itu dihabiskannya di Rumah Tahanan Salambue, Padangsidimpuan.
Ia ditangkap dengan tuduhan sebagai pemakai narkoba, dua bulan lalu ia baru bebas.
Sebagai narapidana yang baru keluar, ia masih harus melaporkan keberadaannya ke petugas. Itu sudah aturan agar orang-orang yang pernah dipenjara tetap bisa dikontrol keberadaannya.
"Kalau malapor, saya disuruh bayar. Saya memilih tak melapor agar tidak mengeluarkan uang," ia tertawa di hadapan reporter Sinar Tabagsel yang menemuinya di sebuah kedai kopi di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan. "Dari mana saya mau dapat uang, kerja saja tidak."
Ony menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Ia kemudian tersenyum. Tangan kanannya memegang rokok, diselipkan di antara jari-jarinya. Tangan kirinya berulang-ulang mengusap dagunya, lalu mengusap rambut ikalnya yang dipotong pendek.
Tubuhnya tak kurus, tak pula gemuk. Bentuk fisik itu normal, lebih menegaskan kalau ia bukan seorang pecandu narkoba. Berat badannya 70 kg dengan tinggi 170 cm.
Sambil menyeruput kopi hitam, ia bercerita. "Saya hanya mencoba," katanya, menceritakan bagaimana ia bisa tertangkap. "Entah siapa kibus-nya, saya akhirnya ditangkap," katanya.
Kibus adalah istilah dalam bahasa lokal (Batak) untuk orang yang bekerja sebagai sumber informasi bagi petugas. Orang itu sering tidak diketahui entah siapa, juga tidak bisa diduga. Tak jarang pelaku kejahatan narkoba, atau, setidaknya, orang itu pernah berada di dalam dunia narkoba di Kota Padangsidimpuan. Orang ini punya pengalaman, mengenal atau minimal tahu jaringan peredaran narkoba. Tapi, yang sangat pasti, orang yang disebut kibus memiliki hubungan istimewa dengan petugas. Entah agar usaha yang dilakoninuya berjalan lancar, ia bersedia menjadi "pelapor" tak resmi tentang siapa saja yang menjadi pemain narkoba.
Ketika keluar dari penjara, Ony sempat berniat mencari kibus itu. Awalnya, ia menduga si kibus adalah kawan dekatnya, orang dengan siapa ia menikmati narkoba. Ketika ia ditangkap, kawan itu tidak ikut ditangkap.
Namun, saat bertemu kawan itu, ia menjadi tahu bahwa ada orang yang memang diposisikan petugas sebagai kibus. Petugas menyuruh orang itu mencari tahu siapa saja yang berhubungan dengan peredaran narkoba, baik pemakai, pengedar, maupun bandar.
"Kawan dekat itu bukan kibus. Ia juga menjadi incaran petugas, tapi belum ketemu hari sialnya," katanya.
Mengenal Narkoba
Ony mengenal narkoba karena kawan-kawannya banyak yang memakai. Ia juga sering mendengar tentang narkoba. Merasa narkoba sebagai sesuatu yang asing, ia berusaha mengenalinya. Tak puas hanya mengenali, ia mencoba menikmatinya.
Sebagai remaja yang tak lulus SMA, yang tak punya kegiatan selain membina hubungan perkawanan dengan gank, awalnya selinting ganja, lalu selinting lagi.... Ia tak kuat dan terbatuk-batuk. Hal itu justru membuat dirinya menjadi bahan tertawaan. Tak mau terlihat lemah, ia terus mencoba hingga akhirnya bisa menikmati apa yang dicobanya.
Narkoba itu diberikan oleh seorang kawan satu gank. Kawan itu pecandu yang payah, tingkat ketergantungannya terhadap narkoba sangat tinggi. Ia mau mengeluarkan uang untuk membeli. Mungkin karena uang orang tuanya banyak.
Lantaran pembayarannya selalu lancar, para pengedar menyukainya. Kawan itu menjadi konsumen tetap yang disukai para pengedar.
Ketika sedang menikmati narkoba yang dibelinya, kawan itu mau berbagi dengan semua anggota gank. Siapapun yang dekat dengan kawan itu, akhirnya mencicipi narkoba.
Ony mulai menikmati narkoba. Ia tidak lagi mengandalkan pemberian kawannya, tapi mulai membeli. Sejak itu, Ony menjadi paham, dunia narkoba adalah dunia keras, uang berlimpah, dan kehidupan enak yang diidamkan.
Ony putus sekolahh. Orang tuanya tidak kaya raya. Sederhana. Ia tak punya pekerjaan tetap. Sudah berkali-kali ia bekerja, tetapi tak ada pekerjaan yang membuatnya puas. Gaji yang diperoleh selalu di luar ekspektasi, terlalu sedikit untuk tanggung jawab yang luar biasa. Tak jarang, ia harus menerima semprotan dan makian, sesuatu yang membuatnya merasa kehilangan harga diri. Ia tak ingin kehilangan harga diri, memutuskan tak bekerja sebagai bawahan orang lain.
"Sulit cari pekerjaan di Padangsidimpuan ini," katanya, mencoba tersenyum. "Banyak generasi muda yang menganggur di kota ini."
Ia berpengalaman bekerja di banyak perusahaan milik pengusaha lokal di Sidimpuan. Namun, sebagian besar perusahaan itu tidak dikelola dengan manajemen yang baik, lebih banyak dikelola dengan manajemen rumah tangga. Para karyawan memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik perusahaan, dan hubungan itu membuat hak-hak karyawan menjadi hilang.
"Saya pernah bekerja dengan saudara. Ketika saya minta gaji, saya malah dikata-katai. Dituduh tidak tahu membalas budi, padahal saya hanya minta hak yang belum dibayarkan," katanya.
Bisnis Narkoba
Dunia narkoba di Padangsidimpuan, dunia yang asyik. Itu penilaian Ony ketika salah seorang pengedar menerangkan bagaimana ia menjalankan bisnisnya. Modalnya cuma kepercayaan.
"Kalau pemilik narkoba mempercayaimu, kau akan sukses," kata Ony, mengulangi cerita yang didengarnya. "Peminatnya banyak, produksinya sedikit karena pasokan selalu dibatasi."
Produksi narkoba harus dikontrol agar tidak terlalu banyak beredar. Dengan begitu, keberadaan bisnis itu tidak akan terendus petugas. Pengontrolan dilakukan sejak dari bandar, di mana jumlah orang yang bekerja sebagai pengedar bisa dihitung tak habis jumlah jari. Setiap pengedar memiliki wilayah peredaran masing-masing.
Setiap pengedar itu memiliki jatah narkoba. Berapa banyak konsumennya dan berapa tingkat konsumsinya telah dihitung sejak awal. Kalau pun ada penambahan jatah bagi pengedar, misalnya untuk pelanggan baru, peredaran narkoba itu akan diawasi secara ketat.
"Keuntungan pengedar dari selisih harga yang ditetapkan. Semua barang pasti laku," kata Ony.
Ony tertarik dengan bisnis narkoba. Tata niaganya rapih, selalu diawasi. Keuntungannya jelas. Namun, ketika ia berusaha berhubungan dengan bandar, langkahnya membentur tembok. Entah karena ada yang tak suka ia terlibat dalam bisnis narkoba, petugas menangkapnya.


COMMENTS