Perkara mencintai dan menghargai pahlawan hanya perkara memperingati Hari Pahlawan Nasional pada 10 November setiap tahun. Seremonial belaka dengan upacara, mengheningkan cipta, dan pidato pejabat tentang betapa pentingnya mengenang perjuangan para pahlawan.
Budi Hatees | Seorang peneliti, dan penulis buku.
Suatu hari saya bersama wakil pemerintah daerah di Provinsi Lampung menyambut tamu bernama Ahmed Mohammed di bandara udara setempat. Laki-laki berpostur tinggi besar ini berkebangsaan Aljazair, tepatnya dari kawasan Mediterania. Ia seorang pebisnis yang ulet dan tekun.
Ia datang setelah sebelumnya mengirimkan email yang memberitahu kalau ia beserta koleganya akan melihat perkebunan kopi. Katanya, cita rasa kopi dari Lampung sangat bagus. Ia pernah membeli kopi dari Vietnam, tapi belakang ia tahu bahwa petani ko[pi di Vietnam banyak belajar budidaya di Lampung.
Ia begitu ramah. Dibawanya oleh-oleh beberapa kotak kudapan dan minuman berbahan baku qurma. Ia bilang barang-barang itu diproduksi di pabrik yang ia kelola. Qurma dari pabriknya sudah lama masuk ke Indonesia. Orang Indonesia, katanya, menyukai segala jenis makanan berbahan baku qurma.
Cerita ini tak ada kaitannya dengan bisnis qurma, juga dengan bisnis kopi yang direncanakan Ahmed Mohammed. Cerita ini berhubungan dengan pahlawan, terutama perihal cara bangsa Aljazair menghormati pahlawan mereka.
Di Aljazair, mereka yang menjadi elite, adalah orang-orang yang punya hubungan kekerabatan dengan para pahlawan: cucu pahlawan atau anak pahlawan. Hidup mereka akan dijamin oleh negara sebagai penghormatan negara terhadap jasa-jasa mereka.
Ahmed Mohammad mengatakan, semua warga Aljazair menyangkan kenapa luluhur mereka tidak jadi pahlawan di masa lalu. Seandainya jadi pahlawan, tentu saja hidup dan kehidupan dari keturunan mereka akan terjamin. Ia kemudian mengisahkan nama beberapa pahlawan di negaranya.
Caranya bercerita menunjukkan bahwa ia sangat mengenal pahlawan di negaranya. Ia tahu bagaimana para pahlawan itu berjuang. Ia, bahkan, tahu, kebiasan-kebiasan para pahlawan semasa hidup mereka.
Percakapan denganh Ahmed Mohammed ini kembali melintas dalam pikiran saya ketika memperingati Hari Pahlawan nasional pada 10 November 2024 lalu. Saat itu saya sedang di SMA Negeri 1 Kota Padangsidimpuan, di gedung bekas bangunan Kweekschool Padangsidimpuan.
Tahun 1864, Willem Iskander membangun Kweekschool Tanobato. Sepuluh tahun kemudian, Belanda menutup sekolah itu karena tidak ada penerus Willem Iskander. Pada tahun 1879, Belanda mendirikan Kweekschool di Padangsidempuan.
Charles Adriaan van Ophuysen menjadi direktur Kweekschool Padangsidimpuan kurun 1885-1890. Ia ahli Bahasa Melayu, menjadi pengajar bahasa di Leiden. Kelak, ia menyempurnakan ejaan bahasa Indonesia yang dikenal sebagai Ejaan Van Ophuysen. Ejaan ini menitikberatkan penggunaan huruf Latin dalam bahasa Indonesia.
Tapi, bukan cerita tentang Van Ophuysen ini yang hendak ditonjolkan. Melainkan soal gedung bekas Kweekschool Padangsidimpuan, bangunan lama yang layak dijadikan sebagai objek bersejarah di Kota Padangsidimpuan ini.
Dari Kweekschool Padangsidimpuan lahir banyak tokoh nasional. Sebut saja Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada, putra Batunadua kelahiran tahun 1874. Ia menjadi pengajar bahasa Indonesia di Belanda, dan menjadi asisten dari Charles Adriaan van Ophuysen di Universitas Leiden.
Sutan Casayangan Soripada dikenal luas sebagai penggagas Indische Vereeniging tanggal 25 Oktober 1908 ketika ia menjadi mahasiswa di Leiden. Nama organisasi ini kemudian diubah Mohammad Hatta menjadi Perhimpoenan Indonesia, dan memiliki kepengurusan hampir di seluruh wilayah Eropa.
Di masa tuanya, Sutan Casayangan menjadi penggerak, sosok orangtua yang mendorong anak-anak muda dari Padangsidimpuan agar ikut memikirkan bangsa ini. Orang-orang yang didorong Sutan Casayangan, mengawali kariernya sebagai intelektual yang menghasilkan karya tulis.
Mereka bukan hanya menulis di media cetak, tetapi membangun ekosistem penerbitan pers yang dapat menjadi medium perjuangan melawan kolonialisme Belanda.
Beberapa nama yang pernah belajar langsung dari Sutan Casayangan kemudian dikenal sebagai tokoh pers nasional, pengarang, wartawan, politisi, aktivis, dan pendiri Republik Indonesia. Sebut saja Parada Harahap yang santer sebagai The King of Java Press, wartawan yang juga jadi aktivis anti kolonialisme Belanda.
Parada Harahap juga terlibat dalam pembentukan yang terlibat dalam pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 April 1945. BPUPKI memiliki peran penting dalam perumusan dasar negara dan konstitusi Indonesia.
Jauh hari sebelum BPUPKI dibentuk, Parada Harahap menjadi sosok yang mendorong anak-anak muda asal Padangsidimpuan untuk membentuk Jong Batak Bond, organisasi pemuda yang orang-orangnya berperan aktif dalam membangun Jong Sumatranen Bond.
Jong Bataks Bond adalah organisasi pemuda yang mewakili pemuda Batak. Tokoh-tokohnya adalah Sanusi Pane, Armijn Pane, Amir Sjarifuddin Harahap, dan para pemuda yang sebagian besar berasal dari Padangsidimpuan. Mereka mendeklarasikan diri sebagai pemuda Batak, keluar dari Jong Sumatranen Bond karena di internalnya mendominasi pemuda Minangkabau.
Jong Batank Bond dan Jong Sumatranen Bond tidak pernah berseteru. Kedua organisasi pemuda ini berjalan beriringan ketika merumuskan Kongres Pemuda yang diadakan pada 30 April hingga 2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres ini merupakan tonggak penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menghasilkan Sumpah Pemuda.
Pasca Kongres Pemuda I, para penggeraknya seperti Mohammad Yamin, Sanusi Pane, Amir Sjarifuddin Harahap, dan lain sebagainya menjadi figur pemuda yang keras dan melawan terhadap kolonialisme serta segala sesuatu yang berbau Eropa.
Sanusi Pane, yang berkarir sebagai wartawan, adalah sosok anak muda yang keras. Ia mengkritik siapa saja yang memiliki kedekatan dengan kolonialisme Belanda. Ia, bahkan, mengkritik sikap Boedi Otomo yang lemah dan terlalu menuru kehendak Belanda. Kritik disampaikan langsung lewat pidato pada acara peringatan organisasi Boedi Otomo.
Tak cuma para intelektual pejuang, Sanusi Pane juga mengkritik cara berpikir Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam polemik budaya yang terkenal sebagai tonggak awal pertarungan intelektual budaya di negeri ini, sosok Sanusi Pane lebih banyak dihujat karena dinilai tidak memberi dukungan terhadap kemajuan peradaban.
Bagi masyarakat saat itu, siapa saja yang mendukung kemajuan peradaban, maka dukungan itu bermakna menginginkan kebebasan dan kemerdekaan. Negara-negara di Eropa menjadi contoh bangsa yang merdeka, dan bangsa-bangsa yang merdeka inilah yang perlu dicontoh jika ingin merdeka.
Sanusi Pane dikucilkan dalam pergaulan dunia intelektual.
Tapi, bukan soal pengucilan Sanusi Pane ini yang menjadi pokok pembicaraan di sini. Melainkan soal sosok Sanusi Pane sebagai salah seorang penggerak peristiwa bersejarah bernama Sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Sanusi Pane berperan untuk menetapkan bahasa INdonesia sebagai bahasa persatuan, meskipun negera Republik Indonesia (RI) belum terpikirkan pada saat itu.
Tak banyak yang tahu besarnya peran dan kontribusi Sanusi Pane bagi negeri ini. Bukan hanya wargabangsa yang ada di berbagai daerah, masyarakat di Kota Padangsidimpuan tak tahu bahwa Sanusi Pane adalah orang yang pernah dibesar di kota ini.
Sanusi Pane besar dan bersekolah di Padangsidimpuan. Pada masa mudanya, ia sering pulang dan menggerakkan masyarakat untuk berpolitik praktis lewat partai yang didirikan bersama Amir Sjarifuddin Harahap. Sebagai pemikir, Sanusi Pane selalu ada di belakang layar. Ia mendorong Amir Sjarifuddin Harahap maju ke podium.
Sanusi Pane maupun Amir Sjarifuddin Harahap masih punya ikatan kekeluargaan. Keduanya sepupu dari hubungan pihak ibu mereka yang bermarga Siregar.
Hubungan keduanya semakin dekat ketika Sanusi Pane menikahi gadis bermarga Harahap asal Padangsidimpuan. Ikatan marga di antara mereka membuat Sanusi Pane dan Amir Sjahrifuddin Harahap menjadi dua pribadi yang saling menutupi di panggung politik nasional.
Ketika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Sanausi Pane mulai mengurangi keterlibatan di dunia intelektual. Ia lebih banyak menjadi pengelola surat kabar, menulis karya drama, dan menghadiri acara-acara kebudayaan. Sementara Amir Sjarifuddin Harahap sudah terjun ke politik bersama Sutan Sjahrir.
Ketika Sutan Sjahrir menjadi perdana meneteri dalam kabinet Sjahrir, Amir Sjarifuddin menjadi menteri. Sanusi Pane justru berkutat dengan kegiatan-kegiatan untuk mengembangkan bahasa Indonesia.
Kita tidak mengetahi Sanusi Pane. Kita tak mengenalinya. Kita tak pernah berusaha mencari tahu. Kita hanya mendengarkan orang-orang yang tidak menyukai intelektual Sanusi Pane. Kita mendukung para intelektual yang berorientasi ke Barat, karena kita meyakini masa depan manusia adalah peradaban orang barat.
Lantaran itu pula, karena tidak memahami peran Sanusi Pane bagi bangsa ini, pemerintah tak kunjung memberikan gelar Pahlawan nasional kepadanya. Munglkin pemerintah merasa Sanusi Pane tak layak jadi Pahlawan Nasional karena tidak pernah punya data (atau berusaha mengumpulkan data) tentang apa kontribusi yang telah diberikan Sanusi Pane bagi bangsa dan negara.
Setiap orang dinegara ini pernah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tapi, sayang, mereka tidak tahu bahwa teks lagu ini diperbaiki oleh panitia perbaikan lagu Indonesia Raya yang dibentuk Presiden Soekarno. Ketua panitia lagu Indonesia Raya itu bernama Sanusi Pane, orang yang mengubah teks asli ciptaan WR Soepratman menjadi seperti yang sering kita nyanyikan.
Posting Komentar