![]() |
PLTU Sarulla yang dikelola SOL (Sarulla Operation Ltd) di Pahae, Kabupaten tapanuli Utara. Sumber foto: Medco |
Sejak 1993, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, teridentifikasi memiliki potensi energi panasbumi (geothermal) sebesar 1.046 MW yang terkonsentrasi di cincin api (ring of fire) kawasan gunung berapi Dolok Sibualbuali. Namun, energi baru terbarukan yang begitu besar belum termanfaatkan seluruhnya, meskipun Sibualbuali telah ditetapkan sebagai wilayah kapasitas kerja panasbumi (WKP).
Penulis: Budi Hutasuhut | Editor: Mad Gie
Beberapa laki-laki turun dari mobil yang baru berhenti dekat
sumur panas bumi (geothermal) di kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali di
Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, akhir pekan lalu. Pada setiap
sisi mobil itu ada logo Sarulla Operations Ltd (SOL), warna biru pada logo itu sama dengan seragam
yang mereka pakai.
Mereka mengeluarkan peralatan untuk membersihkan lokasi di
sekitar sumur. Sumur itu berupa sebuah bangunan berbentuk kubus, terbuat dari
semen, dan diberi kerangkeng besi. Para
pekerja menggunakan mesin pemotong rumput, parang. Dalam waktu singkat, areal
di sekitar sumur telah rapi dan bersih.
Titik sumur bor geothermal itu tampak jelas.
Sejumlah warga yang biasanya melintas di kawasan melihat
aksi bersih-bersih itu bertanya-tanya
tentang apa tujuan membersihkan daerah tersebut. Pasalnya, sudah sejak
lama masyarakat tahu, bangunan yang ditutupi semak-belukar dan terlihat seperti
sebuah proyek yang terbengkalai, merupakan peninggalan Unocal North Sumatera
Geothermal, Ltd. (Unocal).
Unocal merupakan investor asal Amerika Serikat, resmi
mendapatkan hak panas bumi di Sumatera Utara pada tahun 1993. Melalui skema Kontrak Operasi Bersama (KOB)
antara Unocal dengan PERTAMINA dan Kontrak Jual Beli Energi dengan PERTAMINA
dan PLN.
Proyek panas bumi ini dikategorikan sebagai CDM (clean
development mechanism). Disamping membantu memenuhi kebutuhan listrik,
proyek ini disosialisasikan memanfaatkan energi terbarukan yang bersih
lingkungan dan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Proyek ini
dikomunikasikan kepada publik sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi
(PLTP) yang didukung oleh pemerintah.
Setelah penandatanganan kontrak, masyarakat di Kecamatan
Sipirok santer perihal kemunculan Unocal di lingkungan mereka. Ketika itu, masyarakat belum bisa
membayangkan listrik tenaga panasbumi, dan masyarakat belum mengetahui untuk
apa pemerintah mengundang investor asing masuk ke wilayah Dolok Sibualbuali.
Unocal kemudian membangun kantor (administrasi) di Dusun Mandurana, tak jauh dari komplek Hotel
Tor Sibohi. Selain itu, alat-alat berat
milik Unocal mulai memasuki kawasan Dolok Sibualbuali untuk membangun jalan
dari Dusun Aek Korsik hingga ke kawasan haritte (kepundan gunung berapi).
Kegiatan serupa juga dilakukan Unocal, membangun jalan dari Desa Parandolok
menuju kawasan haritte di Dolok Sibualbuali.
Dua ruas jalan baru itu berakhir di sumur-sumur pengeboran
panas bumi. Unocal melakukan eksplorasi panas bumi. Dari eksplorasi selama periode
1993--1998, Unocal menemukan 13 sumur
cadangan sistem panas bumi. Ke-13 sumur
bor itu berada di dalam kawasan Ekosistem Batangtoru, kawasan hutan yang
memiliki kekayaan flora dan fauna. Titik-titik pengeboran itu membentuk satu
garis, mulai dari Kabupaten Tapanuli Selatan sampai Kabupaten Tapanuli Utara.
Empat di antara titik sumur panas bumi berada di wilayah
Dolok Sibualbuali. Keempat sumur panas bumi itu dinyatakan produktif dengan
sistem panas bumi bertemperatur maksimal 267°C, dan temperatur zona produksi
218-248°C. Kapasitas potensi terpasang
di wilayah Dolok Sibualbuali mencapai 1.046 MW, atau lebih besar dibandingkan
potensi yang ada di berbagai wilayah di Indonesia.
Kabar potensi panas bumi di Dolok Sibualbuali ini santer.
Masyarakat senang dan bersiap-siap menerima kehadiran PLTP di sekitar mereka
mengingat persoalan terbesar saat itu adalah kurangnya daya listrik yang
menyebabkan seringnya terjadi byar pet.
Namun, krisi moneter mencapai puncak pada 1998, keuangan Unocal goyah. Kondisi semakin parah akibat reformasi tahun 1998. Perubahan kekuasaan politik di dalam negeri mempengaruhi banyak kebijakan pemerintah. Sebelum sumur-sumur panas bumi berproduksi, Unocal hengkang dari Indonesia.
Sejak itu, pembicaraan tentang energi panas bumi dan rencana
membangun PLTP menjadi senyap. Semakin tidak terdengar ketika Unocal menarik
semua asetnya, dan gedung perkantoran di Dusun Mandurana pun sepi.
Bertahun-tahun bangunan itu tanpa penghuni.
Sementara dua ruas jalan yang dibangun Unocal, yang bisa
dilalui masyarakat menggunakan kendaraan roda dua untuk pergi ke ladang mereka
di lereng Dolok Sibualbuali, kembali menyemak dan tidak lagi terpakai.
Bersamaan dengan itu, empat titik sumur bor tenggelam dalam belukar. Tempat itu
tanpa penjaga, dikerangkeng dengan besi dan diberi gembok. Masyarakat jarang
mendekati lokasi tersebut.
"Sejak itu, memang ada petugas yang datang mengontrol
sumur-sumur bor itu," kata Hasan, warga di Dusun Aek Korsik, yang memiliki
kebun kopi tak jauh dari lokasi sumur bor panas bumi. "Belum tentu sekali
sebulan."
Tahun 2000-an, ketika persoalan energi baru terbarukian
menjadi isu sentral terkait potensi sumber daya energi yang ramah lingkungan,
keberadaan sumur bor di Dolok Sibualbuali kembali jadi perhatian. Pemerintah,
setelah menyusun kebijakan baru terkait pemanfaatan energi panasbumi, kembali
menawarkan potensi besar itu kepada investor yang bersedia membangun hingga
mengoperasikannya.
Setelah itu nama Arifin Panigoro menjadi santer di kalangan
masyarakat Kecamatan Sipirok sebagai taipan yang akan menggantikan Unocal lewat
Medco Power Energi. Namun, kabar itu
tidak bertahan lama, dan tiba-tiba pembicaraan tentang membuka PLTP di kawasan
Dolok Sibualbuali menghilang.
Beberapa tahun kemudian, tiba-tiba muncul PT Pertamina
Geothermal Energy, Tbk (PGE), anak perusahaan gabungan PLN dengan Pertamina. PGE mendapat tugas dari pemerintah
untuk mengoperasikan sumur-sumur bor yang ditinggalokan Unocal. PT PGE kemudian menggandeng PT Medco Power
Energi Indonesia, yang kemudian melalui anak perusahaannya, PT Medco Geothermal
Sarulla (MGS), membentuk konsorsium yang
melibatkan INPEX Corporation, Ormat International Inc., ITOCHU Corporation, dan
Kyushu Electric Power Co. Inc.
PLTU Sarulla
Konsorsium yang melibatkan Indonesia, Jepang, dan Amerika
Serikat itu kemudian mendirikan Sarulla Operasion Ltd (SOL). Pada 29 September 2016, SOL dan PT PGE
menandatangani Operation and Maintenance Agreement untuk pengembangan
Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi Sarulla dengan kapasitas 330 MW. Proyek prestisius PLTU Sarulla dikerjakan
dalam skema KBO (konsorsium operasi
bersama).
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad
Yuniarto, dalam paparannya secara
virtual yang diikuti Sinar Tabagsel, Senin, 20 Feberuari 2023 lalu,
mengatakan PGE ingin ekspansi luar negeri. Dalam waktu lima tahun ke
depan, perusahaan akan mengembangkan 600
MW di 13 wilayah kerja panas bumi yang saat ini telah dimiliki.
PGE merupakan pemegang wilayah kerja panas bumi terbesar di
indonesia. Di Sumatra, PGE memegang wilayah kerja panas bumi di Lampung,
Bengkulu, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Di wilayah
tersebut telah terbangkitkan listrik
panas bumi sebesar 1.877 MW, terdiri
atas 672 MW yang dioperasikan sendiri (own operation) dan 1.205 MW
dikelola melalui BKO.
Sementara di Sumatra Utara, PGE memegang wilayah panas bumi
di WKP Sipoholon Ria Ria (Kabupaten Tapanuli Utara), WKP Sibualbuali (Tapanuli
Selatan), WKP Sibayak, WKP Sinabung, dan
sebagainya. Khusus WKP Sipoholon Ria-Ria
dan WKP Sibualbuali, PGE mengelolanya dengan skema KOB bersama Sarulla
Operation Ltd (SOL).
Menurut data PGE, Indonesia memiliki 40% dari seluruh
potensi panas bumi di dunia. Sumber-sumber tersebut tersebar di 251 lokasi
Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, hingga ujung barat Papua. Dari 40%
potensi energi panas bumi yang ada di Indonesia, pemanfaatan energi tersebut
saat ini baru mencapai 4,2% (1.189 MW).
Berkaitan peningkatan pemanfaatan panasbumi, pemerintah
menyusun roadmap pemanfaatan energi panas bumi. Roadmap tersebut
dituangkan dalam Kebijakan Energi Nasional, menargetkan pemanfaatan panasbumi
menjadi 5% pada tahun 2025, atau mencapai kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga
Panasbumi (PLTP) sebesar 3.000 MW hingga tahun 2033.
Sebab itu, PLTU Sarulla yang dikelola SOL beroperasi dan penuh
sejak 2018 untuk mencapai target pemanfaatan panasbumi guna menggantikan
tingginya ketergantungan terhadap energi fosil. Proyek ini dibagi menjadi tiga
unit yang dikembangkan di dua lokasi: Silangkitang di WKP Sipoholon Ria-Ria,
Kabupaten Tapanuli Utara, dengan kapasitas 1x110 MW dan dua unit di
Namorailangit di WKP Sibualbuali di
Kabupaten Tapanuli Selatan dengan kapaistas 2x110 MW atau 220 MW.
PLTU Sarulla menghasilkan 330 MW, atau lebih rendah dari
kapasitas potensi yang diketahui sebesar 172 MW di WKP Sipoholon Ria-Ria dan
1.046 MW di WKP Sibualbuali. Dari kapasitas potensi sebesar 1.046 MW di WKP
Sibualbuali, hanya 220 MW energi panas bumi yang termanfaatkan.

Lokasi unit Namoralangitan 1 dan Namoralangitan 2 berada di
Desa Aek Batang Paya, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, berdekatan
dengan lokasi Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang saat ini sedang
dalam proses konstruksi. Kapasitas
potensi panasbumi terbesar Kabupaten Tapanuli Selatan berada di dua sumur bor
panasbumi yang ada di lokasi Dolok Sibualbuali.
Minim Bagi Hasil Panasbumi
Meskipun Kabupaten Tapanuli Selatan salah satu penghasil
energi panas bumi, namun dana bagi hasil panasbumi untuk kabupaten ini hanya
Rp214.198 juta pada 2021, sama seperti DBH Panasbumi yang diperoleh
kabupaten/kota lain di Provinsi Sumatra Utara yang bukan daerah penghasil. Sementara pada tahun yang sama, Kabupaten
Mandailing Natal, yang merupakan daerah penghasil panasbumi dengan keberadaan
PT Sorik Merapi Geothermal Power (SMGP), mendapat Rp6.854.315 juta.
Pada tahun 2022, Kabupaten Tapanuli Selatan memperoleh DBH
Panasbumi sebesar Rp256.148 juta atau sama dengan kabupaten/kota lain di
Provinsi Sumatra Utara yang bukan penghasil energi panasbumi. Sementara
Kabupaten Mandailing Natal memperoleh Rp8.196.730 juta, belum lagi ditambah
bonus produksi dari PT SMGP.
Pada 2023, Kabupaten Tapanuli Selatan memperoleh tambahan
DBH Panasbumi menjadi Rp750.539 juta karena memiliki WKP Sibualbuali, sama
seperti perolehan DBH Panasbumi untuk Kabupaten Padanglawas karena ada WKP
Sibuhuan. Sementara Kabupaten Madina menerima DBH Rp9.581.350 juta belum lagi
bonus produksi yang diterima masyarakat.
Dari sumber Sinar Tabagsel di lingkungan Sarulla
Operation Ltd. ternyata pihak perusahaan sudah memberikan kontribusi yang cukup
besar kepada masyarakat di sekitar daerah produksi panasbumi. Bahkan, Sarullah
Operation Ltd. telah membagi-bagikan CSR dan juga bonus produksi untuk
masyarakat di Kecamatan Sipirok dalam bentuk pembibitan kopi.
Berdasarkan data di Kemenkeu, DBH Panasbumi berasal dari
setoran Bangian Pemerintah, Iuran Tetap, dan
Iuran Produksi (royalti). DBH Panasbumi untuk daerah sebesar 80% dan
dibagikan dengan rincian 16% provinsi, 32% untuk kabupaten/kota penghasil, dan
32% untuk seluruh kabupaten/kota lainnya
dalam provinsi bersangkutan. Dari 32% itu, DBH Panasbumi dibagikan dengan porsi
sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provunsi bersangkutan.
Di tengah melimpahnya sumber daya alam di Dolok Sibualbuali,
masyarakat di sekitarnya masih belum kebagian banyak berkah. Berdasarkan data
Pemda Kabupaten Tapanuli Selatan,
desa-desa di sekitar Kawasan hutan berstatus desa miskin. Berkah dari Dolok Sibualbuali semestinya bisa
menetes lebih banyak kepada masyarakat. Merekalah yang setiap hari
bersinggungan dengan kawasan itu, sekaligus secara tak langsung menjaga
keutuhannya secara turun-temurun.
Posting Komentar