Cerita tentang polisi dan keluarganya tak pernah tuntas. Tidak hanya polisi di jajaran perwira tinggi (pati), polisi di level tak perwira pun selalu menyita perhatian publik.
Ceritanya beragam: sedih, gembira, satire, kocak, dan... Semua ada. Kita yang mendengar cerita, kadang terhibur, kadang sedih. Lebih sering justru marah.
Ada cerita tentang adik pati Polri yang jadi Bupati dan korupsi, ada mantan istri polisi di Medan yang mati diduga "dihabisi" suaminya, ada (di sekitar kita dan kita lihat langsung) istri polisi flexing kekayaan padahal suaminya kerja 86. Ada perwira bawah Polri di Jawa Barat, ini yang sedang jadi viral, mendadak jadi sorotan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Namanya, Ipda Pol Yayat Sudrajat. Namana itu muncul di tengah polemik kasus dugaan suap Bupati Bekasi periode 2025-2030, Ade Kuswara Kunang. Menariknya, KPK memeriksa harta kekayaannya. Ternyata, ia memiliki banyak rumah yang berdiri di banyak kota di wilayah Provinsi Jawa Barat.
Polisi ini kerja di devisi intelijen dan keamanan (Intelkam). Mungkin bidang politik, karena ia bersentuhan dengan para pengambil kebijakan di daerah. Di bidang ini, seorang profesional intel diwajibkan bekerja senyap untuk menggali informasi dari sumber-sumber primer dan skunder terkait hal-hal yang berhubungan dengan bidang politik.
Polisi yang bertugas sebagai intel bidang politik biasanya berteman dengan elite-elite yang ada di internal kekuasaan. Jika polisi itu di daerah, ia memiliki kedekatan dengan semua unsur pimpinan daerah. Bahkan, ia tahu tentang para elite partai politik. Bukan saja tahu siapa mereka, tapi juga mengerti apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka melakukannya.
Tidak heran bila Yayat Sudrajat dikait-kaitkan dengan Bupati Bekasi,Ade Kuswara Kunang. Dikisahkan bahwa ia merupakan "orang kepercayaan" Bupati Bekasi. Perannya sangat penting dalam urusan proyek-proyek.Dengan sendirinya ia selalu bersentuhan dengan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi, dan kekuasaan yang ada di daerah.
Tapi bukan kekuatan itu yang membuatnya jadi buah bibir hari ini. Tapi persentuhannya, yang seperti Midas (orang yang menyentuh benda apapun pasti jadi emas). Apapun yang ia sentuh menjadi emas.
Ia memiliki puluhan rumah, padahal gaji pokok polisi dengan pangkat Inspektur Dua (Ipda) tak lebih Rp3. 0000.000. Kalaupun ditambah tunjangan jabatan dan lain sebagainya, penghasilannya mentok pada angka Rp7.000.000 per bulan.
Dengan uang Rp7.000.000 per bulan, hidup di Jawa Barat yang dekat dengan Metropolitan Jakarta, mustahil bagi siapa pun untuk bisa hidup sejahtera.
Maka, saya sebut ia Polisi Midas. Dewa memberkati dirinya. Kultivasinya sudah sampai tahap jindan. Apapun yang disentuhnya menjadi emas. Semoga jagat raya menyayanginya dan langit tak menghukumnya dengan sambaran petir dan kilat.
Tapi, sosok seperti dirinya tak sedikit di internal Polri. Dulu, ada polisi Midas di Pulau Papua, yang mengendalikan sejumlah aset luar biasa. Kita sulit membayangkan jumlah asetnya. Lebih sulit lagi membayangkan bagaimana ia bisa mendapatkannya. Di kota-kota lain, ada Polisi Midas lain, yang menguasai sumber-sumber daya alam dan mengatur siapa yang boleh menguasai sumber daya alam itu. Di lain Kota Medan, pernah ada polisi serupa yang menguasai peredaran BBM illegal, ada juga polisi yang terlibat peredaran narkoba.
Menjadi polisi itu menjadi luar biasa di negeri ini. Tangan Midas selalu menyertai hidup mereka. Apapun yang mereka sentuh akan jadi emas.
Kita pernah kaget ketika polisi Sambo berubah jadi Rambo. Ia dar der dor menembak anak buahnya, lalu melimpahkan kesalahan kepada anak buah lainnya.
Polisi Rambo ini konon bertangan Midas. Apapun yang disentuhnya jadi emas. Kekuasaan seperti itu setingkat Dewa. Apalah arti Kapolri bagi Dewa. Pimpinan Kapolri hanya Presiden. Pimpinan Polisi Midas itu dirinya dan sentuhannya yang ajaib.
Tapi, bagaimana bisa polisi bertangan Midas? Di negeri ini, orang-orang bertangan Midas itu bisa muncul dari mana saja. Biasanya mereka muncul sebagai bagian dari rente kekuasaan, mereka mendapat pertolongan dari "tangan tak terlihat". Bukan dalam konsep ekonomi Adam Smith. Mereka sudah melampaui teori. Mereka, bahkan, melampaui Tuhan.
Saya sering gemetar membayangkan betapa masifnya jumlah mereka di negeri ini. Seperti alien, mereka telah berhasil mengambil alih jasad manusia, membuat manusia kehilangan kemurnian jiwanya yang bersahaja.Dan, ternyata, mereka juga sukses mengambil alih jin, menaklukkan negeri yang dihuni para iblis, meracuni iblis hingga kehilangan segala kekuatan untuk menggoda. Kultivasi mereka berada beberapa tingkat di atas manusia dan jin.
Itu yang membuat mereka bisa menaklukkan apa saja. Maka, jangan heran apabila generasi muda di negeri ini berlomba-lomba jadi polisi. Mereka mengikuti kursus, belajar sangat keras. Tapi, sulit bagi generasi muda itu untuk jadi polisi tanpa didukung uang.
Budi Hatees terlibat dalam kerja-kerja peneliti kepolisian dan pemolisian di Indonesia, terlibat dalam penataan Sentral Pelayanan Divpropam Mabes Polri, terlibat penguatan unit sentral pelayanan publik di sejumlah Polda di seluruh Indonesia. Buku-bukunya tentang kepolisian dan pemolisian yang telah diterbitkan: Ulat di Kebun Polri (2013), Perwira yang Membentur Tembok (2017), Biografi Sjacsroeddin ZP (2010), dan puluhan tulisan yang terbit di majalah, surat kabar, dan disampaikan di berbagai seminar serta diskusi tentang kepolisian dan pemolisian.


COMMENTS